Investor Wajib Pahami 7 Perbedaan Saham dan Obligasi

Saham dan obligasi adalah dua instrumen yang populer untuk berinvestasi demi mendapatkan keuntungan. Banyak persamaan di antara keduanya, mulai dari bisa ditebus, bentuknya dokumen yang tertuang perjanjian, hingga bisa diperjualbelikan di pasar modal. Namun, bagaimana dengan perbedaan saham dan obligasi?

Perbedaan Saham dan Obligasi

Sebagai investor, Anda wajib memahami perbedaan kedua instrumen ini agar tidak salah dalam menanamkan modal. Pahami lebih jauh perbedaan keduanya di bawah ini.

1. Kepemilikan Hak yang Tidak Sama

Meski sama-sama merupakan aktivitas menanam modal, pemilik saham dan obligasi punya hak berbeda. Khusus untuk saham, Anda sebagai pemilik memiliki dua hak, yakni hak suara untuk ikut dalam RUPS dan juga hak atas keuntungan perusahaan.

Dalam hal ini, Anda bisa ikut serta menentukan keputusan dalam rapat umum beserta pemilik saham lainnya. Anda tentunya juga mendapat undangan untuk tiap rapat yang diadakan.

Bagaimana dengan obligasi?

Jika menanam modal di obligasi, Anda hanya memiliki hak atau status sebagai pemberi utang.

2. Pajak yang Dikenakan

Obligasi menjadi instrumen investasi yang menghasilkan bunga sebagai keuntungan bagi pemiliknya. Sementara itu, saham menghasilkan dividen sebagai hasil.

Biasanya dividen dibagikan di periode tertentu dan jumlah totalnya akan dipotong pajak. Ini berbeda dengan obligasi yang bunganya diberikan atau dikeluarkan sebagai biaya. Artinya apa? Bunga obligasi sebagai biaya ini dianggap tidak kena pajak.

3. Risiko

Hal lain yang menjadi perbedaan kedua instrumen ini adalah risiko yang menyertai. Instrumen saham memiliki risiko mulai dari perusahaan yang menaungi saham terkena suspend, pailit, hingga delisting.

Khusus ketiga risiko ini, modal yang Anda investasikan bisa hilang tidak berbekas karena ada kemungkinan gagal bayar. Selain itu, masih ada risiko Anda tidak menerima dividen karena perusahaan merugi dan juga fluktuasi pasar.

Sementara itu, obligasi memiliki 3 risiko yakni gagal bayar (khususnya untuk perusahaan swasta), capital loss, dan juga likuiditas.

4. Return atau Keuntungan

Saham dan obligasi sebenarnya menjadi dua instrumen yang menargetkan investor yang berbeda tipe. Perbedaan ini terkait dengan tingkat return yang bisa Anda peroleh.

👉 TRENDING:  Resesi: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Tanda-Tandanya

Saham menjanjikan potensi return tinggi berisiko dan obligasi memiliki return stabil, tetapi angkanya bisa kecil.

Investasi saham lebih cocok untuk Anda yang suka tantangan dengan risiko dan potensi return besar, sedangkan obligasi lebih cocok untuk Anda yang berstatus pemula. Alasannya, obligasi memiliki risiko lebih ringan dari saham. Keuntungannya juga dibagi tiap bulan dengan jumlah yang tetap.

5. Batas Masa Berlaku

Perbedaan saham dan obligasi selanjutnya terkait dengan masa berlaku. Saham biasanya memiliki masa berlaku yang tidak pasti karena semuanya bergantung pada eksistensi perusahaan.

Selama Anda masih memiliki surat bukti kepemilikan saham dan perusahaan masih terus beroperasi, maka ini artinya kepemilikan masih berlaku.

Berbeda dengan saham, obligasi memiliki batas masa berlaku yang pasti dan batasnya sudah tertera dalam surat utang. Potensi keuntungan yang akan Anda dapat juga hanya berkisar pada masa berlaku instrumen ini.

Perbedaan batas masa berlaku ini juga membuat saham dan obligasi memiliki pangsa pasar berbeda. Anda yang ingin berinvestasi jangka panjang, lebih cocok memilih saham. Namun selalu ingat, risiko dan potensi keuntungan saham itu selaras tinggi rendahnya.

Sementara itu, surat obligasi lebih cocok untuk Anda yang ingin investasi dalam jangka waktu tertentu. Selesai kontrak satu surat utang, Anda bisa pindah ke instrumen lain.

6. Fungsi Tambahan

Apakah Anda tahu bahwa obligasi bisa dijadikan sebagai jaminan untuk mendapat pinjaman bank?

Selain itu, jenis surat utang satu ini juga bisa Anda jadikan jaminan jika ingin membeli saham di BEI. Ini jelas berbeda dengan saham yang tidak terindikasi sebagai surat yang bisa Anda jadikan sebagai jaminan.

7. Fleksibilitas dan Capital Gain

Meskipun Anda bisa menjual obligasi kapan saja, membelinya tidak bisa sembarang waktu karena ada jadwal tertentu yang perlu diikuti. Tentunya, penjualan surat utang sebelum jatuh tempo akan berpengaruh terhadap nominal yang Anda dapat.

Sementara itu, untuk saham bisa Anda jual belikan kapan saja tanpa terikat waktu, bahkan Anda bisa mendapatkan capital gain, yakni selisih antara harga beli dan harga jual. Tentunya Anda seharusnya memaksimalkan capital gain dengan menjual saham saat harganya sedang dalam kondisi baik ya.

👉 TRENDING:  Aplikasi Trading Terbaik di Android Paling Populer

Nah, dari 7 perbedaan saham dan obligasi di atas, kini Anda bisa melihat jenis investasi mana yang lebih cocok untuk profil masing-masing, bukan? Jangan sampai asal pilih instrumen investasi karena basic dari aktivitas ini adalah mendapat keuntungan dari modal yang Anda tanam.